Sabtu, 09 Desember 2023

Kalau karma adalah manusia

Diposting oleh nana di 12/09/2023 04:13:00 PM

 Apa kamu akan memanggilku? Karma buruk? Atau sekedar lilin yang terbakar demi terang yang tidak seberapa?

Spongebob mengajariku, sebuah anatomi terpenting yang tidak pernah dibahas didalam ilmu kedokteran. Kotak tertawa. lalu kusimpulkan pasti ada kotak-kotak lain yang bekerja sebagaimana seharusnya mereka. kotak lapar, kotak mengantuk, kotak emosi.


Kotak emosiku rusak. mungkin sejak aku menolak seseorang yang suka padaku belasan tahun lalu, atau ketika aku harus menggunakan jas hujan yang aku benci bentuknya bersepda di lebatnya hujan? atau ketika aku menjalani 3 tahun masa putih abu-abuku dengan berdoa itu segera berakhir? Entah, aku hanya menebak-nebak, dimana langkah pertama yang merusak kotak ini.

Bisa jadi itu karena patah hati pertama oleh manusia berjenis kelamin berbeda, atau ke-dua, atau ke-tiga (yang mungkin saja sampai sekarang belum sembuh), entah.

Bisa juga itu karena bulan lahirku yang membawa rasi bintang anggun yang aku bernaung di bawahnya, atau taun lahir berlambang kera, atau terima kasih Tuhan ini karena DNA atau apa yang membuatku bergolongan darah bukan A, B, atau O, entah.

Setiap Minggu pagi beberapa minggu terakhir di akhir tahun ini. Rencana tidur seharian, berdalih pengganti hari yang terasa begitu lelah, selalu gagal. entah karena perut yang tiba-tiba mulas di minggu pagi. Tidak pernah begitu di hari sebelumnya. Atau karena cuaca yang panas dan tiba-tiba menyalakan kipas angin terlalu mengganggu. Entah.

Menyedihkan menyadari aku akan selalu begini.

Pekerjaanku, tidak berjalan seperti se-ideal-nya. Percintaan apalagi.

Sedikit di sana, orang ini masih berharap dan percaya, bahwa harapan itu ada. suatu hari akan datang masanya. Semua berjalan damai, tenang, sebagaimana orang-orang terlihat di media sosialnya.

Setiap aku mau bertahan, kotak emosiku yang pecah mengacaukannya. terus mengeluh dan berkata, mentalmu butuh ke psikolog. Uang bukan segalanya, atau sekedar: Kau butuh kopi.

Tidak, aku hanya butuh uang. Yang banyak. Ironis.

Si miskin ini tidak takut kehilanngan pekerjaan. berlagak sakit mental hanya karena kotak emosi yang rusak. Serius, Sakit mental pastilah hanya ilusi.

Tahun ini, ini adalah pekerjaan ke-duaku. Seperti seseorang yang mencoba berpikir positif, dan putus asa, pekerjaan-pekerjaan ini kukira jawaban Tuhan atas doaku atas "Mudahkanlah". Ternyata masih terlalu sulit. Seperti Anak TK yang harus mengerjakan soal kelas 5 SD karena dipaksa ibunya bimbingan belajar di Kumon. 

Aku tidak mudah menyerah. Dulu. 

Semakin tua, kukira semakin mudah, ternyata benar. Untuk bebrapa hal. Ternyata tidak, untuk banyak hal lainnya. 

Sudah tidak punya apa-apa, orang ini masih sombong. Berpikir, mungkin Tuhan kirimkan orang sepertiku sebagai karma untuk orang-orang jahat itu. Tidak akan ada orang yang memberikan dedikasinya sebanyak aku memberikannya. Standar mereka akan terlalu tinggi setelah tahu bagaimana caraku bekerja. Mereka pasti akan kesulitan mencari yang lebih dariku.

Itu pikirku. Sesekali.

Padahal aku hanya lilin yang terbakar demi terang yang tidak seberapa. Akan ada cahaya lampu, dan ada matahari esok hari. 

0 komentar:

Posting Komentar

 

GOLONGAN DARAH AB Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review