Minggu, 25 Agustus 2019

Surat Untuk Pemilik Hati Nona Layang-layang

Diposting oleh nana di 8/25/2019 07:59:00 PM
Gambar terkait
Hai.
Bukannya menulis pesan singkat, aku malah ke sini.

Kesehatan fisiknya baik-baik saja, harap kamu juga begitu. Kamu tahu, dia sudah membawakan anak menantu untuk orang tuanya. Orang tuanya begitu bahagia tak terperi. Seperti keadaan sebelumnya, seperti saudara-saudaranya juga, orang-orang bilang semua baik-baik saja. Dia pikir semua juga akan baik-baik saja. Lantas, ketika semua tidak baik-baik saja, ternyata, brarti itu hanya perasaannya saja 'kan? Dia tahu perasaannya bukan lagi hal penting.

Sesuatu ada yang salah dengannya. Sangat pribadi sampai dia ingin kamu tahu. Tapi cukup memalukan untuk dia memberitahumu. Mungkin lain kali saja.

Dia merindukanmu. Banyak hal terjadi, tidak satu hal pun tidak ingin dia ceritakan kepadamu. Ketika akan tidur, dia menyebut namamu. Setelah bangun tidur, namamu. Membaca Kitab Suci, pun bertemu namamu. Sudah terbayang, betapa itu rindu yang dia dekap.

Dia kembali ke masa dia mengulang masa-masa menjijikkan. Melihat punggung seseorang, dia kira punggungmu. Mendengar lagu-lagu lama kalian, dia mendengar suaramu. Melihat kopi tersedu berasap-asap, dia teringat bibirmu. Melihat kata-kata terukir dari buku, dia teringat bahsa inggrismu yang... terkadang ngawur.

Dia mulai berpikir macam-macam. Tentang hal yang tidak bisa aku ceritakan tadi. Dia berpikir, apakah itu akan sama jika itu dengan kamu? Atau memang Tuhan sedang (sekali lagi) bercanda. Hei, dia tidak menganggap ini lucu. 

Dia berpikir, apakah itu akan menjadi berbeda ketika dia mengatakannya dengan benar sebelumnya? 

Iya, dia juga baru tersadar kalau dia belum pernah mengatakannya dengan benar.

Tentang,

Dia menginginkanmu. Orang terakhir yang akan dia lihat sebelum dia menutup hari, pun orang pertama yang dia lihat setelah membuka mata. Orang yang namanya dia sebut ketika bahagia, ketika bersedih, ketika bahkan otak sedang tidak bekerja dengan baik karena diselimuti birahi. Apa aku mengatakannya dengan benar? Tapi, bukankah itu harus dia sendiri yang mengatakannya padamu?

hmm..
Kamu? bagaimana?
Salahkan dia yang tidak tahu diri. Selama bus mu belum menjemput, dia merasa masih boleh untuk berharap. Dan daripada berharap dan mendoakanmu untuk itu, dia lebih berharap untuk tidak pernah melihatnya. Oya, dia pernah ingin mengakhiri hidupnya, tapi untung itu hanya pikirannya saja. Dia terlalu pengecut untuk ke arah itu. 

Mungkin, tebakanku, itu seperti kata yang selalu disebut dalam syair lagu-lagu romantis itu, kepadamu. Iya, rasa itu. Aku geli hendak mengatakannya. Biar dia sendiri yang mengatakannya padamu.

Tapi benarkah? Akankah sesuatu jadi berbeda ketika dia mengatakannya lebih awal?

Kepada pemilik hati Nona Layang-layang, Dia mencintaimu.


Maaf, mungkin akan ada surat kedua nanti.

0 komentar:

Posting Komentar

 

GOLONGAN DARAH AB Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review