Minggu, 19 April 2015

IF, JIKA, SEANDAINYA (tentang marriage)

Diposting oleh nana di 4/19/2015 07:15:00 PM
Sebenarnya saya benci menggunakan kata-kata itu. Kenapa? Karena suatu kalimat yang diawali dengan kata-kata itu selalu belum atau tidak pernah terjadi sama sekali. Dan semua terasa mungkin.

Ah lupakan. Tapi dasarnya imajinasi AB kuat, nggak perlu if, jika, atau seandainya imajinasi dan khayalan udah terlalu tinggi nggak bisa dibendung.

Entah desperate atau karena selalu gagal dalam percintaan (jiaahhh percintaan) atau memang lagi musim kawin. Tiba-tiba kepikiran soal nikah. Entah udah berapa kali mau bahas masalah beginian di blog dan cuma tertoreh (duh tertoreh) beberapa kalimat dan berakhir di draft tanpa terselesaikan. Kalau tulisan ini nanti jadi terbit, berarti prestasi temans. *tepuk tangan orang ehh*

"...Lah pancen wis teko jodone.." Kalimat itu yang kurang lebih di kuping saya artinya "Memang jodohnya udah datang, mau gimana lagi", dikeluarkan temen saya pas saya nanya "Kamu tuh pendiem, kok bisa tiba-tiba mau nikah?". Ada perasaan gimana gitu pas denger jawaban itu. Padahal saya nanyanya sambil bercanda. Ehh malah masuk ke hati. Dari situ saya bertanya-tanya sendiri, gimana kita tahu ketika jodoh kita sudah datang. Bagaimana kita mengenali kalau dia jodoh kita. Bagaimana kalau ternyata bukan orang itu jodoh kita. Apa mungkin ada semacam sinyal atau radar? Ah mungkin benar. Jodoh saya belum datang makanya saya tidak tahu rasanya.

Akhir-akhir ini saya baru lihat film Get Married 4. Ini film serinya selalu sukses bikin saya pengen punya suami. Apalagi se ganteng dan sekaya Rendy. Kan si Mae nggak cantik-cantik banget kan ya. Nggak kaya, nggak spesial lah. Nah bisa dapet si Rendy gitu. Duhh.. salah nih liat ini film. Tapi emang bagus sih. Apalagi liat We Got Married yang episode nya Song Jae Rim dan Kim So Eun. Variety Show dari Korea satu ini sukses bikin saya senyum-senyum sendiri kaya orang gila dan lagi-lagi pengen punya suami.

But wait... saya segera tersadar dari lembah kenistaan ini. Hhaaa.

Kenyataan itu mengerikan. Sepertinya satu atau dua minggu memang manis sekali. Tapi who knows setelah itu?

Gini, lupakan if, jika dan seandainya. When I have a boyfriend, I just wanna share everything with him. Talking a whole thing with him, loughing together.. Spend so much time with him. But Marriage?? Entahlah, sekarang ini saya berpikir kalau itu akan sulit.

Inget juga perkataan temen saya yang lain. Sudahlah.. nikah aja, nunggu apa lagi?! I'm not waiting for anithing by the way. Menunggu calon pun tidak. Menunggu itu untuk sesuatu yang belum tentu datang. Untuk hal yang sudah pasti akan datang, untuk apa ditunggu. Dia akan datang, dan kembali lagi pada pernyataan teman saya sebelumnya, ketika "dia" benar-benar sudah datang, kita bisa apa?

Lagi pula, kenapa kita tidak harus buru-buru menikah. Sekali lagi kehidupan pernikahan itu menyeramkan. Oke sebagian orang bilang kalau pernikahan itu nikmat. Mungkin mereka just talking about sex, atau salah satu tujuan hidup mereka tercapai. Tunggu sampai suatu pernikahan menghasilkan anak, dan anak menjadi tumbuh dewasa. Pasangan menua, lebih emosional, hanya ada uang uang uang di kepala. What the !@$@%$#!@#$%!!!

Manusia dianugerahi sifat lupa dan bosan. Yakin cintamu yang nikmat itu bakal awet? Memang ada formalin cinta? Jadi kenapa kita nggak perlu buru-buru nikah? Satu, kamu punya waktu lebih banyak untuk mendapatkan yang terbaik. Oke, itu klise.

Gini temans. Bayangkan umur kita sampai dengan 70 tahun. dan kita menikah umur 22 tahu. Artinya akan ada 48 tahun yang akan dihabiskan dalam kehidupan rumah tangga kamu. Itu bahkan lebih lama dari usia kamu. Yakin itu akan hanya terisi dengan kebahagiaan? Kalau setelah menikah langsung diberi anak dan berencana tidak mempunyai anak lagi setelah usia 35 tahun, paling tidak suatu keluarga ini adan mempunyai 2 orang anak. Dan ketika usia kita 40an, anak-anak kita sudah dewasa dan menghabiskan banyak uang. Disitu rumah tangga nggak lagi tuh kaya di film-film. kecuali kejaiban terjadi. Beneran. Ini Horor kalau menurut saya.

Jadi dengan kita tidak buru-buru menikah, waktu yang kita habiskan untuk menikmati masa muda dan merealisasikan rencana-rencana gila kita semakin panjang. Kesempatan punya anak banyak semakin kecil, karena hamil diusia tertentu berbahaya. Dan keributan rumah tangga otomatis terminimalisisr.

Sebenarnya menikah muda, menikah diusia yang pas, atau menikah tua itu tidak ada yang salah atau benar. Mereka pasti punya alasan masing-masing. Jadi Pliss jangan bilang, "ayolah nikah, nunggu apa lagi?" kepada temanmu atau "kamu kapan nyusul?" atau sejenisnya.

Balik lagi, ke jawaban teman saya di awal tadi. kalau sudah datang jodohnya, bisa apa?!

2 komentar:

Anonim mengatakan...

AB mah labil, kadang bilang serem tapi kadang mupeng. brrrhhh !!!!

nana mengatakan...

namanya juga AB, udah jadi sifatnya kalau dia plin - plan labil hhaaa

Posting Komentar

 

GOLONGAN DARAH AB Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review